.
Jumat, 24 Mei 2024
  • Selamat Datang di Website SMK Negeri 1 Petarukan. Nestar : Serasi Beriman (Semangat Raih Prestasi, Berintegritas, Maju dan Inovatif)

LAPORAN BEST PRACTICE PENINGKATAN KOMPETENSI PEMBELAJARAN TAHUN 2021/2022

Diterbitkan : - Kategori : TERKINI

PEMBELAJARAN BESARAN DAN PENGUKURAN MELALUI PENDEKATAN SCIENTIFIC DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERORIENTASI HOTS KELAS X TB 1 SMK NEGERI 1 PETARUKANTAHUN PELAJARAN 2021/2022

BAB I

 PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Pembelajaran mata pelajaran IPA di SMK  jurusan Tata Boga (TB) sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013 merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berorientasi HOTS. Pemecahan masalah merupakan bagian dari kurikulum IPA yang sangat penting karena dalam proses pembelajaran maupun penyelesaian, peserta didik dimungkinkan memperoleh pengalaman menggunakan pengetahuan serta keterampilan yang sudah dimiliki untuk diterapkan pada pemecahan masalah.

Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang penulis lakukan selama ini, penulis menggunakan buku siswa dan buku guru. Penulis meyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik digunakan di kelas karena diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata dalam praktiknya, penulis mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas tidak sesuai dengan latar belakang peserta didik. Terlebih sebelumnya pembelajaran yang dilakukan secara daring karena adanya pandemi Covid-19, sehingga menyebabkan peserta didik kurang bisa menyesuaikan dengan pembelajaran yang dilakukan. Selain itu, penulis masih berfokus pada penguasaan pengetahuan kognitif yang lebih mementingkan hafalan materi. Dengan demikian proses berpikir peserta didik masih dalam level C1 (mengingat), memahami (C2), dan C3 (aplikasi). Guru hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS). Penulis juga jarang menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di kelas kaku dan peserta didik tampak tidak ceria. Bloom menyampaikan gagasannya berupa taksonomi tujuan pendidikan dengan menyediakan dalam bentuk hierarki. Melalui gagasannya, Bloom menyediakan rujukan yang dapat digunakan oleh guru IPA untuk memformulasikan tujuan – tujuan pembelajaran, memilih metode  mengajar dan pendesaianan tes serta aktivitas belajar peserta didik.

Berdasarkan hasil pengamatan yang penulis lakukan dengan beberapa peserta didik diperoleh informasi bahwa peserta didik bosan mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan menggunakan metode ceramah dan metode penugasan yang selalu dilakukan guru. Sebagian peserta didik mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis, dan hanya menyalin dari buku teks.

Untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0, peserta didik harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model Problem Based Learning yang menuntun peserta didik untuk mengamati (membaca) permasalahan, menuliskan penyelesaian dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas, model pembelajaran yang mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya. Dalam Problem Based Learning peserta didik dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari- hari (kontekstual). Dengan kata lain, Problem Based Learning membelajarkan peserta didik untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Setelah melaksanakan pembelajaran dengan materi Besaran dan Pengukuran dengan menyelesaikan masalah melalui model Problem Based Learning, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar peserta didik meningkat. Lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya yang hanya didominasi model konvensional. Ketika model Problem Based Learning ini diterapkan pada kelas X TB yang lain ternyata proses dan hasil belalajar peserta didik sama baiknya. Praktik pembelajaran yang berhasil baik ini penulis simpulkan sebagai sebuah best practice (praktik baik) pembelajaran berorientasi HOTS dengan model Problem Based Learning.

A.    Jenis Kegiatan

Kegiatan yang dilaporkan dalam laporan praktik baik ini adalah kegiatan pembelajaran mata pelajaran IPA  dikelas X TB pada materi Besaran dan Pengkuran.

B.    Manfaat Kegiatan

1.       Bagi peserta didik

  1. Peserta didik akan lebih bergairah dan kreatif dalam mengikuti pembelajaran.
  2. Mempermudah peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran.
  3. Terkontrolnya tingkah laku positif peserta didik.
  4. Menciptakan suasana kelas yang kondusif dan dinamis pada saat proses pembelajaran berlangsung.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                
  5. Meningkatkan hasil belajar peserta didik.

2.       Bagi guru

  1. Memperluas wawasan.
  2. Meningkatkan profesional kerja.
  3. Meningkatkan peran guru sebagai fasilisator.
  4. Memberikan motivasi untuk guru-guru yang lainnya.
  5. Memperbaiki kinerja guru dalarn proses pembelajaran mata pelajaran IPA khususnya pada KD menerapkan konsep sistem persamaan linear dua variabel dalam menyelesaikan masalah kontekstual.

3.       Bagi Sekolah

  1. Menerapkan metode yang dilaksanakan terhadap mata pelajaran yang lain.
  2. Memanfaatkan metode dengan semaksimal mungkin.
  3. Mengembangkan bakat untuk tercapainya visi dan misi sekolah.

BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

A.    Tujuan dan Sasaran

Tujuan penulisan praktik baik ini adalah untuk mendeskripsikan kegiatan pengetahuan dan keterampilan dalam menerapkan pembelajaran berorientasi higher order thiking skills (HOTS) pada materi Besaran dan Pengukuran.

Sasaran pelaksanaan best practice ini adalah peserta didik kelas X TB 1 semester ganjil di SMK Negeri 1 Petarukan sebanyak 35 peserta didik.

B.    Bahan/Materi Kegiatan

Bahan yang digunakan dalam praktik baik pembelajaran ini adalah materi kelas X TB 1 untuk mata pelajaran IPA pada Kompetensi Dasar sebagai berikut:

Kompetensi Dasar (KD)Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
gidentifikasikan satuan besaran pokok dalam Sistem Internasionalinstrumen secara tepat dalam melakukan pengukuranngidientifikasi cara menggunakan alat ukur
4.1 Mengukur besaran-besaran fisika yang digunakan di bidang pariwiwata4.1.1  Menyiapkan instrumen dalam melakukan pengukuran 4.1.2  Melakukan pengukuran berbagai besaran dengan alat ukur yang tepat 4.1.3 Membaca nilai yang ditunjukkan alat ukur 4.1.4 Menuliskan hasil pengukuran sesuai dengan aturan penulisan angka penting    

C.    Melaksanakan Kegiatan

Cara yang digunakan dalam pelaksanaan praktik baik ini adalah menerapkan pembelajaran dengan model pembelajaran Problem BASED Learning. Berikut ini adalah langkah-langkah pelaksanaan praktik baik yang telah dilakukan penulis.

  1. Pemetaan Kompetensi Dasar (KD)

Pemetaan KD dilakukan untuk menentukan KD yang dapat diterapkan dalam pembelajaran dengan materi Besaran dan Pengukuran dalam menyelesaikan masalah kontekstual. Berdasarkan hasil telaah KD yang ada di kelas X TB 1, penulis memilih model Pembelajaran Problem Based Learning

  • Analisis Target Kompetensi

Hasil analisis target kompetensinya sebagai berikut. Perumusan Indikator Pencapaian Kompetesi Dasar sebagai berikut:

Kompetensi Dasar (KD)Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
Menerapkan besaran fisikaMenjelaskan besaran-besaran fisikaMembandingkan besaran pokok dan besaran turunanMemberikan contoh besaran pokok dan besaran turunan dalam kehidupan sehari-hariMengidentifikasikan satuan besaran pokok dalam Sistem InternasionalMengidentifikasi instrumen secara tepat dalam melakukan pengukuranMengidientifikasi cara menggunakan alat ukur
4.1 Mengukur besaran-besaran fisika yang digunakan di bidang pariwiwata4.1.1  Menyiapkan instrumen dalam melakukan pengukuran 4.1.2  Melakukan pengukuran berbagai besaran dengan alat ukur yang tepat 4.1.3 Membaca nilai yang ditunjukkan alat ukur 4.1.4 Menuliskan hasil pengukuran sesuai dengan aturan penulisan angka penting  
  • Pemilihan Model Pembelajaran

Model pembelajaran yang dipilih adalah Pembelajaran Problem Based  Learning.

  • Merencanakan kegiatan Pembelajaran sesuai dengan Model Pembelajaran Pengembangan desain pembelajaran dilakukan dengan merinci kegiatan pembelajaran yang dilakukan sesuai  dengan sintak Problem BASED Learning.

Berikut ini adalah rencana kegiatan pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan model Problem BASED Learning.

Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalahGuru menunjukkan sebuah botol dan selembar kain. Lalu bertanya kepada peserta didik bagaimana cara mengukur diameter luar dan diameter dalam dari mulut botol serta ketebalan mulut botol ini? Bagaimana cara mengukur ketebalan kain ini? Jenis besaran apa saja yang diperoleh dari hasil pengukuran? mengajak peserta didik                                         menganalisis informasi apa saja yang terdapat pada masalah tersebut dan  bagaimana cara  penyelesaian masalahnya.         dengan bantuan media                                 powerpoint melakukan                          tanya jawab dengan peserta  didik untuk    mengetahui langkah-langkah cara mengukur diameter luar dan diameter dalam mulut botol serta mengukur ketebalan dari mulut botol dan menentukan ketebalan kain sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah yang telah ditampilkan sebelumnya.yang dibawa guru.                                       guru, menganalisis informasi dan pertanyaan penting yang        ada        pada       permasalahan         yang disajikan              serta memberikan dugaan perkiraan langkah yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut.       
Fase 2 Mengorganisasikan peserta didikmemastikan peserta didik telah duduk sesuai dengan kelompoknya masing-masing. mengenai petunjuk pengerjaan LKPD dan memberikan kesempatan   pada peserta didik untuk menanya apabila ada yang kurang jelas. mempresentasikan hasil diskusi sehingga semua peserta didik harus siap.  kelompok memastikan telah menerima bahan ajar dan LKPD.      
Fase 3. Membimbing penyelidikan individu dan kelompokuntuk literasi dari bahan ajar yang diberikan dan mendiskusikan LKPD untuk menjawab semua pertanyaan yang ada.       meminta dari masing-masing kelompok untuk mengkomunikasikan secara tertulis pada LKPD. (Critical thinking and problem   solving, Collaboration). pengarahan dan bimbingan pada peserta didik yang kesulitan.  (Collaboration).didik secara berkelompok melakukan pengukuran dengan alat ukur yang tepat serta berdiskusi untuk menentukan bagaimana cara membaca hasil pengukuran yang dilakukan.   secara tertulis pada LKPD. (Critical thinking and problem solving, Collaboration).     didik secara aktif bertanya pada guru ketika menjumpai kesulitan.
Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karyasatu kelompok untuk menyajikan hasil diskusinya di depan kelas secara bergantian. (Communication, mengkomunikasikan).mengajukan diri untuk menyajikan hasil diskusinya di depan kelas (Communication, mengkomunikasikan).
Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah(Communication, Creativity thinking and inovation)   yang telah dipelajari. (Communication, HOTS)didik secara aktif menanggapi hasil diskusi yang disampaikan oleh kelompok yang tampil di depan kelas. (Communication, Creativity thinking and inovation)   lain ikut memberikan apresiasi pada kelompok yang telah mempresentasikan hasil diskusinya dan memberikan tanggapan dengan memberikan tepuk tangan.     dan penguatan yang diberikan guru.               membuat simpulan dan rangkuman materi yang telah dipelajari. (Communication, HOTS)
  • Penyusunan Perangkat Pembelajaran

Berdasarkan hasil kerja 1 hingga 5 di atas kemudian disusun perangkat pembelajaran meliputi RPP, bahan ajar, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan instrumen penilaian. RPP disusun dengan mengintegrasikan kegiatan literasi, penguatan pendidikan karakter (PPK), dan kecakapan abad 21.

D.    Media dan Instrumen

Media pembelajaran yang digunakan adalah Laptop, LCD proyektor, power point. Instrumen yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrumen untuk mengamati proses pembelajaran berupa lembar observasi dan (b) instrumen untuk melihat hasil belajar peserta didik dengan menggunakan (a) tes tulis uraian singkat.

E.    Waktu dan Tempat Kegiatan

Praktik ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 20 September 2021 bertempat di kelas X TB 1 SMK Negeri 1 Petarukan.

BAB III

HASIL KEGIATAN

 

A.    Hasil

Hasil yang dapat diilaporkan dari praktik baik ini diuraikan sebagai berikut :

  1. Proses pembelajaran dengan menggunakan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam menyelesaikan masalah yang dilakukan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning berlangsung aktif. Peserta didik menjadi lebih aktif merespon pertanyaan dari guru, termasuk mengajukan pertanyaan pada guru maupun temannya. Aktifitas pembelajaran yang dirancang sesuai sintak Problem Based Learning megharuskan peserta didik aktif selama proses pembelajaran.
    1. Pembelajaran dengan menggunakan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer knowledge dan keterampilan dalam melakukan pengukuran serta sikap teliti. Setelah membaca, mengamati video dan penjelasan dari guru, peserta didik tidak hanya memahami permasalahan kontekstual (pengetahuan konseptual) dan bagaimana membuat menyelesaikan permasalahan kontekstual (pengetahuan prosedural), tetapi juga keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan terutama dalam melakukan pengukuran besaran panjang dengan menggunakan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup.
    1. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, keterampilan dan ketelitian. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi peserta didik untuk bertanya dan menanggapi topik yang dibahas dalam pembelajaran.

Dalam pembelajaran sebelumnya yang dilakukan penulis tanpa berorientasi HOTS suasana kelas cenderung membosankan. Peserta didik cenderung bekerja sendiri-sendiri untuk berlomba menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Fokus guru adalah bagaimana peserta didik dapat menyelesikan soal yang disajikan; kurang peduli pada proses berpikir peserta didik. Tak hanya itu, materi pembelajaran yang selama ini selalu disajikan dengan pola deduktif (diawali dengan ceramah teori tentang materi yang dipelajari, pemberian tugas, dan pembahasan), membuat peserta didik cenderung menghapalkan teori. Pengetahuan yang diperoleh peserta didik adalah apa yang diajarkan oleh guru.

Berbeda kondisinya dengan dilakukan pembelajaran mengenai penggunaan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam menyelesaikan masalah kontekstual berorientasi HOTS dengan menerapkan Problem Based Learning ini. Dalam pembelajaran ini pemahaman peserta didik tentang penggunaan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam menyelesaikan masalah kontekstual menjadi meningkat hal ini dapat dilihat dari partisipasi peserta didik ketika pembelajaran berlangsung. membuat peserta didik lebih mampu menerapkan bagaimana cara membaca hasil pengukuran. Melalui pengamatan dan diskusi ini juga menuntut kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.

  • Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning ini juga meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah (problem solving).  Model Problem Based Learning yang diterapkan dengan menyajikan soal cerita dan gambar yang berisi permasalahan kontekstual mampu mendorong peserta didik merumuskan pemecahan masalah.Sebelum menerapkan Problem BASED Learning, penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan buku guru dan buku peserta didik. Meskipun permasalahan yang disajikan dalam buku peserta didik terkadang kurang sesuai dengan kehidupan sehari-hari peserta didik, tetap saja penulis gunakan. Jenis teks yang digunakan juga hanya pada teks tulis dari buku peserta didik. Dengan menerapkan Problem Based Learning, peserta didik tak hanya belajar dari teks tulis, tetapi juga dari gambar, benda nyata serta diberi kesempatan terbuka untuk mencari data dari hasil praktikum secara langsung dan materi lain dari sumber belajar lainnya.

B.    Masalah yang Dihadapi

 

Masalah yang dihadapi terutama adalah peserta didik belum terbiasa belajar dengan model Problem Based Learning sehingga ketika mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas peserta didik masih terlihat malu-malu. Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru selalu menggunakan metode ekspositori, tanya jawab dan diskusi peserta didik pun merasa lebih percaya diri menghadapi ulangan (penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui ekspositori.

Berbeda kondisinya dengan pembelajaran dengan menggunakan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam menyelesaikan masalah kontekstual berorientasi HOTS dengan menerapkan Problem Based Learning ini. Dalam pembelajaran ini pemahaman peserta didik tentang bagaimana menggunakan alat ukur yang tepat pada besaran yang diukur dan membaca hasil pengukurannya dengan praktikum untuk menyelesaikan masalah kontekstual menjadi meningkat hal ini dapat dilihat dari partisipasi peserta didik ketika pembelajaran berlangsung membuat peserta didik lebih mampu membaca hasil pengukuran sesuai jenis besarannya dari benda yang diukur dalam menyelesaikan masalah. Melalui pengamatan dan diskusi ini juga menuntut kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis.

C.    Cara Mengatasi Masalah

Agar peserta didik yakin bahwa pembelajaran menggunakan alat ukur jangka sorong dan mikrometer sekrupdalam menyelesaikan masalah dengan Problem Based Learning dapat membantu mereka lebih menguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS). Pemahaman dan kesadaran akan pentingnya HOTS akan membuat peserta didik termotivasi untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kesadaran bahwa belajar bukan sekadar menghafal teori dan konsep akan membuat peserta didik mau belajar akan tetapi harus sering berlatih dengan soal-soal yang berbasis masalah kontekstual sehingga mampu menyelesaikan soal-soal yang berbasis HOTS.

Keterbatasan guru dalam membuat media pembelajaran dapat diatasi dengan mecari sumber belajar yang relevan baik dari internet atau buku penunjang lain yang sesuai dengan KD yang akan dibelajarkan baik dari google atau sumber belajar yang lainya. Dengan demikian, selain menerapkan kegiatan literasi baca dan tulis, peserta didik juga dapat meningkatkan literasi digitalnya.

BAB IV

SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A.    Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Pembelajaran dengan menggunakan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup dalam menyelesaikan masalah dengan model pembelajaran Problem Based Learning layak dijadikan praktik baik pembelajaran berorientasi HOTS karena dapat meingkatkan kemampuan peserta didik dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, pemecahan masalah, keterampilan dalam menggunakan alat ukur yang sesuai dan sikap teliti.
    1. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, pembelajaran dengan menggunakan alat ukur berupa jangka sorong dan mikrometer sekrup pada materi Besaran dan Pengukuran dalam menyelesaikan masalah menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning yang dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, literasi, dan kecakapan abad 21.

B.    Rekomendasi

Berdasarkan hasil praktik baik pembelajaran materi Besaran dan Pengukuran dengan model pembelajaran Problem BASED Learning, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.

  1. Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku peserta didik dan buku guru yang telah disediakan, tetapi berani melakukan inovasi dan kreatifitas pembelajaran yang kontekstual sesuai dengan latar belakang peserta didik dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih                  bermakna.
  2. Peserta didik diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu peserta didik menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama/ tidak mudah lupa.
  3. Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis untuk mengaplikasikan pembelajaran ini akan menambah wawsan guru lain tentang pembelajaran HOTS.

Laporan Lebih lengkap Lihat di sini

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Beri Komentar